Indonesia sempat digegerkan setelah ditemukannya sampah plastik mie instan yang tidak terurai selama 19 tahun. Hal ini diyakini karena sampah yang ditemukan oleh Fianisa, seorang mahasiswi dari Malang, ini bertuliskan “Dirgahayu 55 Tahun Indonesiaku”, sedangkan saat itu adalah tanggal 7 April 2019.
Sampah plastik bungkus mie instan memang terkategori plastik multilayer yang tidak mudah terurai karena rantai karbonnya yang panjang. Dari sisi ekonomi, plastik multilayer bernilai sangat rendah. Hal ini karena minimnya kebutuhan industri daur ulang terhadap produk multilayer. Ketua Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI), Justin Wiganda, menyatakan bahwa kebutuhan industri terhadap plastik multilayer berada di bawah satu persen.
Dengan demikian, pemulung cenderung abai terhadap plastik multilayer dan hanya memungut plastik jenis PET karena dapat dijual pada industri daur ulang.
Masalahnya, data menyebutkan bahwa untuk kemasan bungkus mie instan merek Indomie misalnya, setidaknya diproduksi sebesar 18 miliar bungkus mie instan per tahunnya (2016). Belum ditambah merek lain yang tentu tidak sedikit jumlahnya.
Lantas bagaimana?
Guna Olah Limbah telah melakukan riset bertahun-tahun untuk mengolah jenis limbah plastic nondaurulang tersebut. Dengan menggunakan teknologi pirolisis, limbah plastik mie instan dapat diolah hingga menghasilkan minyak bakar.
Di kemudian hari, GOL berharap dapat berkolaborasi dengan berbagai industri yang menghasilkan kemasan multilayer. Dibutuhkan partisipasi dari banyak pihak, termasuk konsumen, produsen, dan tak terkecuali pengelola.
Dengan demikian, sampah yang semula berakhir di laut atau di TPA, kelak dapat diolah dan dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari.
Referensi :




